Sunday, August 14, 2011

Bahaya Syiah terhadap umat islam

Dewasa ini kebid’ahan telah merebak di dalam tubuh kaum muslimin sedemikian hebatnya sehingga banyak kaum muslimin yang tidak mengerti bahaya kebid’ahan padahal kebid’ahan tersebut dapat merusak mereka dan merusak keutuhan dan persatuan kaum muslimin bahkan banyak negara Islam yang hancur lantarannya seperti daulah bani Umayah yang jatuh disebabkan kebid’ahan Ja’d bin Dirham (Jahmiyah) lihatlah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika mengomentari sejarah keruntuhan bani Umayah: “Sesungguhnya daulah bani Umayah hancur disebabkan oleh Ja’ad Al Mu’athil.”[1] Dan berkata:”Jika muncul kebid’ahan-kebid’ahan yang menyelisihi Rasulullah maka Allah akan akan membalas (dengan kejelekan) pada orang yang menyelisihi Rasul dan memberi kemenangan kepada yang lainnya.”[2].
Dan dalam tempat yang lain beliau berkata: “Maka iman kepada Rasul dan Jihad membela agamanya adalah sebab kebaikan dunia dan akhirat dan sebaliknya kebid’ahan dan penyimpangan agama serta penyelisihan terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah sebab kejelekan dunia dan akhirat.”[3]

Bahaya syiah terhadap kaum muslimin merupakan satu kenyataan yang tidak dapat dimungkiri oleh setiap muslim lebih-lebih yang telah meneliti dan membaca sejarah mereka sejak masa awal pertumbuhan dan perkembangannya sampai saat ini, rentang waktu yang cukup panjang dengan segala peristiwa berdarah yang telah menumpahkan darah ribuan bahkan jutaan kaum muslimin.



Mengenal dan meneliti bahaya dan implikasi syiah merupakan pembahasan yang cukup luas dan panjang lagi penting agar setiap muslim dapat mengambil pelajaran, kemudian tidak terperosok dalam satu lubang berkali-kali. Apalagi dimasa sekarang mereka telah berusaha dengan segala sarana dan prasarana yang mereka miliki untuk menyebarkan dakwah mereka di seluruh pelosok dunia dengan perlahan-lahan namun pasti yang pada akhirnya mereka akan menampakkan hakikatnya bila telah mencapai apa yang menjadi tujuan mereka. Oleh sebab itu memahamkan masyarakat Islam tentang bahaya mereka dalam ideologi, politik, ekonomi dan sosial kaum muslimin saat ini merupakan hal yang mendesak, karena besarnya bahaya syiah terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat dan Negara Islam, apalagi di Malaysia yang kebanyakan kaum muslimin belum mengenal siapa mereka dan bagaimana bahaya mereka terhadap kaum muslimin ditambah lagi dengan munculnya nama-nama baru perwujudan dari syiah ini seperti IJABI (Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia),[4] yang telah mulai menancapkan kuku-kuku beracunnya ke dalam tubuh kaum muslimin dengan tameng kecintaan ahlil bait. Mudah-mudahan dengan pembahasan ini dapat memberikan peringatan kepada segenap kaum muslimin dan menjadi teguran kepada sebagian kaum muslimin yang mencoba menganggap syiah sebagai kawan dan sahabat, dan menganggap mereka tidak membahayakan dan merugikan kaum muslimin.



Bahaya Syiah terhadap Ideologi dan Pemikiran Kaum Muslimin

Bahaya mereka dalam bidang ini banyak sekali, diantaranya:

1. Memasukkan kesyirikan kedalam masyarakat Islam bahkan sebagian Ahlil Ilmu menetapkan mereka sebagai orang yang pertama membuat kesyirikan dan penyembahan kubur pada umat Islam.

Hal ini terjadi lantaran sikap ekstrim mereka dalam mencintai para imam Syiah, sehingga membawa mereka kepada sikap ekstrim terhadap kuburan, dan membuat riwayat-riwayat yang dijadikan oleh mereka sebagai dasar amalan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Ar Rodd Alal Akhnaa’iy hal.47 : “Orang pertama yang memalsukan hadits-hadits pembolehan bepergian untuk menziarohi keramat-keramat yang ada diatas kuburan adalah ahlil bidah dari kalangan Rafidhah (Syiah) dan yang sejenisnya dari orang-orang yang meninggalkan masjid dan mengagungkan tempat keramat yang ada padanya kesyirikan, kedustaan dan kebid’ahan terhadap agama Islam yang tidak ada padanya hujjah dari Allah Ta’ala , karena Al kitab dan As Sunnah hanya menyebutkan ibadah di masjid-masjid dan tidak di tempat-tempat keramat.”

Sekarang tempat-tempat keramat dan tempat-tempat ziaroh syiah menjadi tempat kesyirikan dan paganis, dan ini dapat dilihat di negeri-negeri Syiah seperti Iran demikian juga buku-buku mereka memperbolehkan bahkan menyeru kepada kesyirikan tersebut.

Syaikh Musa Jaarullah berkata, setelah menziarohi negara Iran dan Irak dan tinggal disana beberapa bulan bahwa dia telah melihat tempat-tempat keramat dan kuburan-kuburan ditempat mereka disembah.

Syaikh Abul Hasan Annadwiy berkata tentang bangunan keramat di kuburan Ali Ar Ridha dalam makalahnya Min Nahri Kaabul Ila Nahri Al Yarmuuk hal 93 majalah Al I’tishom, tahun (41) edisi ke-3 setelah menziarohi Iran : “Setiap orang asing yang menziarohi keramat Ali Ar Ridho akan merasa seakan-akan di dalam masjid Al Haram, dia mendengar teriakan, tangisan dan desis ratapan, dipenuhi oleh laki-laki dan perempuan , dihiasi dengan hiasan-hiasan yang megah yang dibuat dengan harta benda yang sangat banyak sekali.”[5]

Imam Al Aluusiy pengarang kitab At Tuhfah Al Itsba Asyariyah menyatakan, bahwa mereka (kaum syiah) selalu ekstrim menyembah dan menthawaf-i kuburan para imam mereka bahkan sampai shalat menghadapnya tidak menghadap Ka’bah dan masih banyak lagi yang lainnya yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap berhala mereka. [6]

Kemudian beliau berkata: “Jika ada padamu keraguan tentang hal itu silahkan pergi ke sebagian tempat keramat-keramat mereka agar kamu melihat kenyataan ini dengan kedua matamu.”[7]

Inilah persaksian mereka yang telah melihat langsung keadaan mereka akan tetapi amat disayangkan musibah dan bencana ini akhirnya terbawa dan masuk kenegeri-negeri Islam dan menjadi kebiasaan sebagian kaum muslimin sehingga merusak aqidah dan ideologi mereka.



2. Merusak agama Islam dan menyesatkan kaum muslimin

Demikianlah pemikiran syiah dengan segala keanehan dan kesesatannya terus didakwahkan dan disebarkan dengan segala sarana yang mereka miliki untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang akan mengikutinya dan semakin banyak orang yang meninggalkan agama Islam yang shahih dengan segala provokasi para syaikh mereka yang selalu berusaha memperbanyak jumlah pengikut mereka. Provokasi ini didasarkan diatas kedustaan dan penipuan yang mereka pakai dalam menipu pengikut mereka dan orang-orang awam dari kaum muslimin diantaranya adalah slogan tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syiah dan pernyataan mereka bahwa keganjilan ajaran syiah sesungguhnya ada dasarnya di dalam riwayat-riwayat ahli sunnah.

Tidak diragukan lagi dakwah dan penyebaran aqidah Syiah dan provokasi yang berisi ketetapan syiah merupakan bagian dari Islam adalah salah satu sebab penting dalam usaha merusak dan menyesatkan kaum muslimin, apalagi sekarang ada Negara Ayatullah di Iran yang mereka jadikan sarana untuk menghadapi kemunculan dan kebangkitan Islam karena munculnya Negara yang merusak citra keindahan dan kesempurnaan Islam, dan memberi gambaran yang berlawanan dengan keinginan dan kebangkitan Islam yang sejati akan menghapus dan mengendorkan semangat dan keinginan untuk bangkit mendirikan kekhilafahan yang berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunnah. Di dada para pemuda Islam, hal ini telah dimanfaatkan oleh para penjajah (kolonialis) dan mereka sangat bergembira dan memperhatikan kemunculan pemikiran dan ajaran-ajaran kebid’ahan melalui orang-orang yang dinamakan Orientalis yang memiliki kedudukan, seperti penasehat bagi kementrian luar negeri mereka dan mereka tidak pernah lupa dengan sejarah mereka terhadap kaum muslimin.

Bagaimanapun juga, munculnya Syiah dengan ajaran-ajaran anehnya tanpa diragukan lagi menghambat manusia untuk berjalan dijalan Allah dan menyesatkan kaum muslimin dari agamanya yang lurus.



3. Penyebab munculnya Golongan Zindiq

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dasar kesesatan Ismailiyah dan Nusairiyah dan sekte-sekte lainnya dari orang-orang mulhid dan zindiq adalah pembenaran berita dan riwayat dusta Rafidhah Syiah yang mereka paparkan dalam menafsirkan Al Quran dan hadits, beliau berkata: “Para pemimpin Ubaidiyiin (bani Ubaid) hanya menegakkan dasar dakwahnya dengan kedustaan-kedustaan yang dibuat-buat oleh kaum Rafidhah, agar pengikut syiah yang sesat dapat menerimanya. Kemudian orang-orang tersebut berpindah dari mencela para sahabat kepada mencela Ali kemudian mencela Allah, oleh karena itu ajaran Syiah Rafidhah adalah pintu dan jalan yang menghantar kepada kekufuran dan penyimpanga.” [8]

Bahkan Syaikh Muhibuddib Al khothib mencatat bahwa tasayu’ (ajaran Syiah) menjadi satu faktor pendukung tersebarnya ajaran komunis dan bahaiyah di Iran[9].



4. Berusaha menyesatkan kaum muslimin dengan merusak sunnah Rasululloh shallalahu ‘alaihi wassalam.

Ini merupakan usaha yang mereka lakukan untuk menyesatkan kaum muslimin, sehingga mereka masuk ke kalangan ahlil hadits dan setelah itu memasukkan riwayat-riwayat palsu mereka sehingga banyak para ulama Islam yang terkecoh dengannya, akan tetapi Alhamdulillah Allah tidak membiarkan begitu saja bahkan membangkitkan para imam ahlil hadits untuk membongkar makar busuk mereka itu. Syaikh As Suwaidiy berkata : “Sebagian Ulama mereka bergelut dengan ilmu hadits , mendengar hadits-hadits dari para ahli tsiqat dari ahli sunnah serta menghapal sanad-sanad periwayatan ahli sunnah yang shahih, lalu menghiasi diri dengan ketakwaan dan wara’ sehingga mereka diakui termasuk kalangan ahli hadits kemudian mereka meriwayatkan hadits-hadits yang shahih dan hasan dan memasukkan hadits-hadits palsu mereka.[10]

Al Alusiy menyatakan bahwa diantara mereka itu adalah Jaabir Al Ju’fiy [11], bahkan Ibnul Qayim menjelaskan bahwa Syiah telah memalsukan hadits tentang Ali dan ahlil bait sebanyak lebih dari 3000 hadits.[12]



Bahaya Syiah terhadap Kaum Muslimin dalam Bidang Politik

Syiah seperti telah ditandaskan dalam kitab-kitab pokok mereka tidak meyakini keabsahan negera apapun juga di dunia Islam kecuali kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dan anaknya Al Hasan dan menganggap khalifah di dunia Islam ini adalah Thaghut dan negaranya tidak sah sebagaimana dalam riwayat-riwayat mereka: “Setiap panji yang ditegakkan sebelum bangkit imam yang ditunggu-tunggu kebangkitannya, maka pelakunya adalah thoghut.

Oleh Karena itu jadilah syiah tempat yang mapan bagi musuh-musuh Islam dan orang-orang yang berkonspirasi menghancurkan Islam sampai sekarang, dan itu terbukti dengan pengakuan dari mereka seperti duta besar Rusia di Iran Kanyaz Dakurki yang mengambil nama samaran Syaikh Isa sebagaimana dijelaskan oleh majalah yang diterbitkan kementrian rusia tahun 1924-1925, demikian juga Jenderal berkebangsaan Inggris Juaifir Alikhaan dan lain-lainnya.

Syaikhul Islam menyatakan: “Kebanyakan penganut agama Syiah tidak beriman kepada Islam, akan tetapi menampakkan diri sebagai orang Syiah karena dangkal dan bodohnya akal Syiah untuk mengantarkan mereka kepada tujuan-tujuan kepentingan mereka. (Minhajus Sunnah 2/48)

Orang yang mengerti sejarah Islam akan berpendapat para pengaku Syiah ternyata adalah musuh yang paling berbahaya yang menyerang negara Islam, karena mereka itu secara lahiriyah adalah muslimin akan tetapi di bathinnya menyimpan kekufuran dan permusuhan yang besar sekali terhadap Islam, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya asal setiap fitnah dan bencana adalah Syiah, dan orang yang mengikuti mereka dan kebanyakan pedang yang menumpahkan darah kaum muslimin adalah dari mereka dan pada mereka bersembunyi para zindiq.”[13].

Dan karena mereka menganggap kaum muslimin lebih kufur dari yahudi dan nashrani, sehingga mereka bersama bahu membahu dalam menghancurkan umat Islam , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sungguh kami dan kaum muslimin telah melihat apabila kaum muslimin diserang musuh kafir maka Syiah bersama mereka menghadapi kaum muslimin.”[14]

Lihatlah kisah masuknya Hulaghu Khan (raja Tartar Mongol) ke negeri Syam tahun 658 H, dimana kaum Syiah menjadi penolong dan pembantu mereka yang paling besar dalam menghancurkan Negara Islam dan menegakkan Negara mereka. Dan ini telah diketahui dengan jelas dalam buku-buku sejarah khususnya di Iraq dimana menteri khalifah waktu itu yang bernama Ibnul Alqaamiy dan kaum Syiah menjadi pembantu Hulaghu Khan dalam menaklukkan Iraq dan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak terhitung jumlahnya. Ringkas kejadiannya Ibnul Alqaamiy adalah seorang menteri pada khalifah bani Abasiyah yang bernama Al Mu’tashim seorang Ahli Sunnah, akan tetapi dia lengah dan tidak memperhatikan bahaya Syiah sehingga mengangkat seorang Syiah sebagai menterinya, padahal menterinya ini telah merencanakan makar busuk dalam rangka menghancurkan negaranya dan kaum muslimin serta menegakkan Negara Syiah, ketika mendapat jabatan tinggi tersebut maka dia memanfaatkannya untuk merealisasikan makarnya menghancurkan Negara Islam dengan melakukan tiga marhalah:



Pertama: melemahkan tentara muslimin dengan menghapus gaji dan bantuan kepada para tentara dan mengurangi jumlahnya. Ibnu Katsir berkata: “Menteri Ibnul Alqaamiy berusaha keras untuk menyingkirkan para tentara dan menghapus namanya dari dewan kerajaan. Pada akhir masa pemerintahan Al Muntashir,[15] tentara kaum muslimin mendekati jumlah seratus ribu tentar, dan dia terus berusaha menguranginya sehingga tidak tinggal kecuali sepuluh ribu orang tentara saja.[16]



Kedua : menghubungi Tartar, Ibnu Katsir memaparkan bahwa dia menghubungi Tartar dan memotivasi mereka untuk merebut wilayah Islam serta mempermudah mereka untuk itu lalu dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya dan menceritakan kelemahan-kelemahan para tokoh pemimpin Islam.[17]



Ketiga: melarang orang memerangi Tartar dan menipu khalifah dan masyarakat Islam, Ibnul Alqoomiy melarang orang untuk memerangi Tartar dan menipu khalifah dan para penasehatnya, dengan mengatakan bahwa Tartar tidak ingin perang akan tetapi ingin membuat perjanjian damai dengan mereka dan meminta khalifah untuk menyambut mereka untuk kemudian berdamai dengan memberi separuh hasil pemasukan negeri Iraq untuk tartar dan separuhnya untuk khalifah. Lalu khalifah berangkat bersama tujuh ratus orang dari para hakim, ahli fiqih, amir-amir dan pembantu-pembantunya… lalu dengan tipu daya ini terbunuhlah khalifah dan orang yang bersamanya dari para panglima tentara dan prajurit pilihannya tanpa susah payah dari Tartar. Sedang orang-orang Syiah lainnya menasehati Hulaghu Khan untuk tidak menerima perdamaian kholifah dengan mengatakanbahwa kalau terjadi perdamaianpun tidak akan bertahan kecuali setahun atau dua tahu saja kemudian kembali seperti sebelumnya dan memotivasi Hulaghu khan untuk membunuh Kholifah, dan dikisahkan yang menyuruh membunuh khalifah adalah Ibnul Alqaamiy dan Nushair Ath Thusiy.[18]

Kemudian mereka masuk ke negeri Iraq dan membunuh semua orang yang dapat dibunuh dari kalangan laki-laki, perempuan, anak-anak, orang jompo, dan tidak ada yang lolos kecuali ahli dzimmah dari kalangan Nashrani dan Yahudi serta orang-orang yang berlindung kepada mereka dan ke rumah Ibnul Alqaamiy .[19]

Dalam peristiwa tragis tersebut, terbunuh lebih dari belasan juta orang dan belum ada dalam sejarah Islam bencana seperti bencana yang ditimbulkan orang tartar mongol, mereka membunuhi orang-orang bani Haasyim, menawan para wanita Abasyiyah dan selain Abasyiyah. Lalu apakah ada orang yang berloyalitas kepada ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam lalu memudahkan kaum Kafir untuk membunuh dan menawan mereka dan kaum muslimin?[20]

Lihatlah dan renungkanlah kejadian besar ini dan ambillah pelajaran wahai Ahli Sunnah dalam melakukan pendekatan terhadap mereka!!!![21]



Bahaya Syiah dalam Bidang Sosial

Orang Syiah yang hidup bersama kaum muslimin selalu menyembunyikan hakikatnya dan selalu menggunakan tipu daya, khianat dan berbuat jahat cukuplah pernyataan Syaikh Islam ibnu Taimiyah tentang mereka menjadi saksi akan hal tersebut sejak dahulu kala dan dapat dirasakan di zaman kita ini, berkata Syaikhul Islam: “Adapun Rafidhah (Syiah), mereka tidak berinteraksi sosial dengan orang lain kecuali menggunakan kenifakan karena agama yang ada dihatinya adalah agama yang rusak yang membawanya untuk berdusta, khianat, menipu, dan berbuat jahat terhadap orang sehingga dia melakukan kejahatan apa saja.[22]

Ini persaksian seorang tokoh Sunni, mungkin ada yang mengatakan: “Itukan hanya tuduhan belaka tanpa bukti. Akan tetapi, jika kita melihat kembali kekitab-kitab rujukan mereka didapatkan pemaparan beliau ini sesuai. Lihatlah dalam kitab Rijal Al Kisysyiy ada kisah seorang Syiah kepada imamnya bagaiman dia membunuh sejumlah orang yang menyelisihinya, ia berkata: “Diantara mereka ada yang saya naik ke atap rumahnya dengan tangga dan saya bunuh, ada yang saya ajak keluar di malam hari, ketika dia keluar pintu langsung saya bunuh, ada yang saya temani dalam perjalannya,lalu ketika bersendirian saya bunuh.[23]

Syaikh Syiah yang bernama Ni’matullah Al Jazaairiy bercerita tentang menteri Ar Rasyid yang bernama Ali bin Yaqthiin, dia di penjara bersama sejumlah orang yang menyelisihinya (dalam madzhab), lalu dia memerintahkan para budaknya untuk merobohkan atap penjara tempat mereka lalu mereka mati seluruhnya, dan jumlah mereka waktu itu lima ratus orang, kemudian dia ingin mengelak dari tuntutan darah mereka lalu dia mengutus orang ke Imam Maulana Al kaadzim dan sang imam membalas dengan menulis jawabannya: “Seandainya engkau telah memberitahukan saya sebelum membunuh mereka, maka kamu lolos dari tuntutan darah tersebut dan ketika kamu tidak memberitahukan saya terlebih dahulu, maka bayarlah sebagain tebusannya satu kambing untuk setiap orang dan seekor kambing itu lebih baik daripada mereka.”[24]

Lihatlah bagaimana mereka tinggal ditengah-tengah kaum muslimin, bagaimana imam mereka menyetujui pembunuhan lima ratus orang, hanya sekedar mereka bukanlah orang syiah dan hanya memerintahkan membayar satu kambing per orang lantaran tidak izin dahulu kepada imam mereka dan jika sudah izin kepada imam mereka atau wakilnya yaitu para faaqiih maka bisa berbuat semaunya.

Kemudian tokoh Syiah ini berkomentar tentang kisah tersebut: “Lihatlah tebusan yang rendah ini yang tidak sampai menyamai tebusan (diyat) adik mereka yaitu anjing buruan karena diyatnya (tebusan) dua puluh dirham dan tidak pula diyat (tebusan) kakak mereka yaitu orang Yahudi atau Majusi karena diyatnya (tebusannya) delapan ratus dirham.”[25]

Sejarah membuktikan bahwa mereka banyak menyulut fitnah dikalangan kaum muslimin, karena mereka berani mencela dan melecehkan para sahabat dalam setiap pertemuan tahunan mereka, dan kalau kita melihat sejarah terjadinya pertumpahan darah antara Syiah dengan Ahlis Sunnah yang pertama di Baghdad adalah tahun 238 H, kemudian berlanjut fitnah-fitnah yang telah benyak memakan korban dari kalangan kaum muslimin.

Diantara bahaya Syiah terhadap tatanan social masyarakat Islam adalah pembolehan nikah Mut’ah yaitu kesepakatan rahasia untuk melakukan hubungan suami istri kepada wanita yang telah sepakat dengannya walaupun dari kalangan Pekerja Seks Komersil (PSK) atau wanita yang masih bersuami, lihat pendapatnya Ath Thusiy, ia berkata: “Tidak mengapa bermut’ah dengan wanita fajiroh,26] dan khumainiy juga berfatwa bolehnya bermut’ah dengan pezinah.”[27] Oleh karena itu, mereka mungkin bersepakat untuk sehari, dua hari atau sekali dan dua kali.

Al Aluusy berkata: “Barangsiapa yang melihat keadaan orang-orang Syiah sekarang dalam masalah Mut’ah tidak butuh dalam menghukum mereka berzina kepada bukti-bukti karena seorang wanita berzina dengan dua puluh laki-laki dalam satu hari satu malam dan mengatakan bahwa dia berbuat mut’ah. Dan buat mereka tersedia lokalisasi-lokalisasi untuk Mut’ah yang berpajangan, disana para wanita dan mereka memiliki mucikari-mucikari yang menghubungkan laki-laki dengan para wanita atau para wanita dengan para laki-laki sehingga mereka memilih yang mereka senangi dan memberikan upahnya dan menarik para wanita tersebut kepada laknat Allah.”[28]

Bukankah ini semua merupakan bahaya yang sangat besar, ambillah pelajaran wahai Ulil Abshar!



Bahaya Syiah dalam Bidang Ekonomi

Demikian pula Syiah memiliki pengaruh kotor dalam bidang ekonomi bagi kaum muslimin, hal ini cukup jelas kalau di pandang dari bahaya mereka dalam bidang-bidnag yang lain, sebab kerusakan politik, ideologi, dan pemikiran serta kaitan sosial amat berpengaruh dalam bidang ekonomi, lihatlah fitnah-fitnah yang mereka timbulkan banyak menghabiskan harta benda, nyawa, dan waktu sehingga memberikan kesempatan yang luas bagi musuh-musuh Islam menghancurkan ekonomi dan budaya kaum muslimin. Apalagi dipandang dari sudut aqidah, mereka yang menganggap harta dan jiwa kaum muslimin yang bertentangan dengan mereka adalah harta yang boleh dirampas dan diambil dengan dakwaan yang dusta, bahwa hal itu adalah hak ahlil bait padahal harta-harta tersebut dipergunakan untuk merealisasikan keinginan-keinginan khusus mereka dan untuk menjalankan makar dan tipu daya mereka dalam menghadapi umat Islam .

Dr Ali Assaalus berkata: “Dari kenyataan madzhab Ja’fariyah pada saat-saat ini kita dapatkan orang yang ingin berhaji harus menghitung jumlah hartanya semua, kemudian membayar seperlima harga hartanya untuk diserahkan kepada para ahli fiqih, yang berfatwa kewajiban khumus dan yang tidak membayarnya tidak dibolehkan haji dengan demikian para ahli fiqih Syiah tersebut telah menghalalakan pengambilan harta dengan kebatilan.”[29]

Berkata Syaikhul Islam : “Adapun pendapat Rafidhah bahwa Khumus hasil pendapatan kaum muslimin diambil dari mereka dan dibayarkan kepada orang yang mereka anggap sebagai pengganti imam yang maksum atau kepada yang lainnya, adalah pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh seorang sahabatpun, tidak juga Ali, dan yang lainnya serta tidak dikatakan oleh seorang tabiin dan dari kerabat bani Hasyim atau yang lainnya.

Semua penukilan dari Ali atau Ulama ahlil bait seperti Al Hasan, Al Husein, Ali bin Al Husein, Abu Ja’far Al baaqir, Ja’far bin Muhamad adalah kedustaan karena itu menyelisihi riwayata yang mutawatir dari sejarah Ali bin Abi Thalib, karena beliau memerintah kaum muslimin selama empat tahun dan belum pernah mengambil dari kaum muslimin sedikitpun hartanya, bahkan tidak ada dimasa pemerintahannya pembagian khumus sama sekali. Adapun kaum muslimin tidak diambil khumus hartanya oleh beliau atau orang lain, dan kaum kufarlah yang kapan dirampas dari harta mereka diambil seperlimanya dengan dasar Al Kitab dan As Sunnah, akan tetapi di zaman beliau kaum muslimin tidak melakukan peperangan dengan kaum kufar, disebabkan adanya perselisihan diantara mereka dari fitnah dan perpecahan. Demikian juga telah diketahui secara pasti, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah mengambil khumus harta kaum muslimin dan tidak juga meminta dari seorang muslim pun khumus hartanya.[30]

Demikianlah, mereka mengambil khumus dalam rangka untuk memenuhi kepentingan dan keinginan ulama-ulama mereka dan inilah selintas tentang bahaya Syiah yang telah menjadi satu kenyataan, dan bukan untuk menjelaskan keseluruhannya dan cukuplah kitab-kitab para ulama Islam telah menjelaskan semuanya dan kita hanya dituntut unruk membaca kembali dan berhati-hati dari mereka dan gerakannya.

Semoga Allah menjaga kita dari mereka, dan menunjuki kita ke jalan yang lurus.

Penulis             : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel Asasl   : UstadzKholid.com



[1] Lihat Majmu’ Fatawa 13/182

[2] Ibid 13/177

[3] Ibid 13/179

[4] . Nama ini juga dikenal dalam istilah internasional dengan Jam’iyah Ahlil Bait, yang menunjukkan bahwa gerakan ini bersifat internasional dan bukan hanya nasional saja dan sebenarnya mereka tidak pantas dijadikan sebagai jamaah ahlil bait karena mereka telah mencela para Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang merupakan ahli baitnya beliau, maka berhati-hatilah!!!.

[5] Lihat lebih detail lagi dalam kitab Ushul Madzhab Syiah Al Itsna Asyarah hal 1071-1072

[6] Mukhtashor At-Tuhfah Al Itsna Asyarah hal.300

[7] Ibid

[8] Minhajus Sunnah 4/3

[9] Lihat dalam Al-Khuthuth Al-Aridhoh hal. 44- 45

[10] Dinukil oleh penulis Ushul Madzshab Syiah Itsna Asyara dari Naqdhi Aqaaidi Syiah, lihat Ushul Madzhab hal 1194.

[11] Suyuf Al-Musyriqah hal.50

[12] Lihat kitab Manaarul Muniif. Hal.116

[13] Minhajus Sunnah 3/243

[14] Ibid 4/110.

[15] Kholifah sebelum Al Mu’tashim

[16] Al-Bidayah Wan Nihaayah 13/202.

[17] Ibid

[18] Lihat kisah lengkapnya di Al Bidayah Wan Nihayah 13/201.

[19] Al-Bidayah Wan Nihayah 13/201-202.

[20] Lihat Minhajus Sunnah 3/38.

[21] Dan masih banyak kisah-kisah lainnya seperti kisah Daulah Shofawiyah dll, yang sangat penjang sekali untuk diceritakan dalam kesempatan yang sempit ini.

[22] Minhajus Sunnah 3/260.

[23] Rijal Al Kisyi hal 342-343 (dinukil dari Ushul Madzhab Syiah hal 1232)

[24] Al Anwaar An-Nu’maniyah 2/308

[25] Ibid

[26] An-Niyaahah hal.490

[27] Tahriril Wasilah 2/292

[28] Dinukil dari Ushul Madzhab Syiah hal. 1235-1236

[29] Atsar Al-Imamah fil Fiqih Ja‘fari hal.391

[30] Minhajus Sunnah 3/154


Lailatul Qadar

ليلة القدر خير من الف شهر
Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan.

Pada sepuluh yang akhir bulan ramadan kita digalakkan beriktikaf di masjid supaya mendapat malam Lailatul-Qadar.Mengikut pendapat Imam Syafie malam Lailatul-Qadar boleh ditemui pada sepuluh yang akhir, tetapi malam yang ganjil terlebih diharapkan. Malam yang terlebih diharapkan daripada sekelian malam ganjil ialah malam dua puluh satu dan malam dua puluh tiga bulan Ramadan.
Imam Gazali dan lainnya ada menyebut bahawa malam Lailatul-Qadar boleh diketahui dengan meneliti satu hari bulan jatuh pada hari apa? Sekiranya satu hari bulan pada hari ahad atau hari rabu maka malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke dua puluh sembilan.

Sekiranya satu hari bulan hari isnin maka malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke dua puluh satu.
Sekiranya satu hari bulan pada hari selasa atau jumaat maka malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke dua puluh tujuh.
Sekiranya satu hari bulan pada hari khamis maka Lailatul-Qadar pada malam yang ke dua puluh lima.
Sekiranya satu hari bulan hari sabtu maka Lailatul-Qadar malam yang ke dua puluh tiga.
Berkata Syeikh Abu Hasan Syazili selama baligh aku, aku tiada luput malam Lailatul-Qadar dengan menguna kaedah (cara) ini

Lihat jadual dibawah ini:
NoAwal bulan hariLailatul-Qadar pada malam
1Ahad29
2Isnin21
3Selasa27
4Rabu29
5Khamis25
6Jumat27
7Sabtu23

Seorang yang dapat berbuat ibadat pada malam Lailatul-Qadar seolah-olah dia sentiasa beribadat selama lapan puluh tiga tahun. Orang yang menghidupkan malam Lailatul-Qadar diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.Diampunkan dosa disini ialah dosa-dosa kecil .Adapun dosa-dosa besar perlu kepada taubat Nasuha .Telah Ijma` Ulama` tidak akn diampunkan dosa-daosa beasar tanpa bertaubat .Ambillah peluan pada Ramadhan ini deng menitis air mata pada Allah dengan memohonkan keampunan padanya .

Mertabat yang paling tinggi menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan pelbagai ibadat sepanjang malam, seperti sembahyang, membaca Al-Quran dan berdo’a.
Mertabat pertengahan menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan menghidup separuh malam dengan pelbagai ibadat.

Mertabat yang paling rendah menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan sembahyang isyak berjemaah, dan azam hendak sembahyang subuh berjemaah.
Fadilat malam Lailatul-Qadar tidak tertentu pada mereka yang mengetahuinya ya`ni yang tahu dapat malam lailatul qadar tetapi hasil fadilat malam Lailatul-Qadar bagi mereka yang menghidupkannya walaupun mereka itu tidak mengetahui malam itu malam Lailatul-Qadar.
Jika penentuan Lailatul Qadar dikekalkan sebagaimana hari yang rasullullah menjumapainya ,nescaya banyak jiwa-jiwa yang cuai ,tidak akan mengambil berat langsung untuk beribadat pada malam yang lain (selain dari malam yang telah ditentukan) .Dalam keadaan sekarang (di mana Lailatul qadar tidak diketahui penentuannya ) ramai yang ada keinginan untuk beribadat akan mendapat taufiq untuk berjaga beribadat ,dengan anggapan mungkin malam inilah malam Lailatul Qadar .
A`isyah rha berkata “ Ya rasullullah ! Beritahulah kepada saya sekiranya saya tahu malam lailatul qadar apakah doa yang sepatutnya saya pohon ? Baginda s.a.w bersabda
“Katakanlah : اَلَّلهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنيِّ “Ya Allah ,sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dan Engkau sukakan pengampunan ,Maka ampunilah aku .”

Apabila berlaku Lalatul Qadar ,Allah taala akan memerintahkan Jibrail a.s supaya turun bersama satu kumpulan Malaikat .Bersama mereka terdapat bendera hijau .Dia akan memacak bendera itu di atas Ka`bah .Jibrail a.s mempunyai seratus sayap .Di antaranya terdapat dua sayap yang tidak dibuka kecuali pada malam itu sahaja .Lalu dia membuka keduanya pada malam itu sehingga keduanya akan menutup dari timur ke barat . Kemudian pada malam tersebut Jibrail a.s akan mendorong malaikat-malaikat sehingga mereka pergi memberi salam kepada setiap orang yang sedang berdiri atau duduk , bersolat atau berzikir . Malaikat –malaikat itu akan berjabat tangan dengan mereka dan akan mengaminkan doa-doa mereka sehingga terbit fajar .Apabila terbit fajar ,Jibrail a.s akan menyeru segala Malaikat , “Sekarang berangkatlah !” Malaikat-malaikat itu pun akan bertanya , “Wahai Jibrail apakah yang Allah taala telah lakukan terhadap keperluan-leperluan orang-orang yang beriman dari umat Muhammad s.a.w .” Dia akan menjawab , “Allah taala telah memerhatikan mereka pada malam ini lalu telah mengampunkan mereka kecuali empat jenis manusia .

Maka bertanya sahabat kepada Nabi “Siapakah mereka ya rasullullah ?” Baginda bersabda , “Lelaki yang berterusan meminum arak , yang menderhakai kedua ibu bapanya ,yang memutuskan silaturrahim dan musyahin .” Sahabat bertanya lagi , “Siapakah musyahin itu ?” Baginda menjawab , “Dia adalah orang yang memutuskan perhubungan keluarga .” Maka sama-samalah kita panjatkan doa ,memohon kepada Allah supaya memberi taufiq pada kita , untuk berebut malam Lailtul Qadar ini .Wallahualam .

Bab Puasa

Rukun puasa
1) Niat . Wajib niat dengan hati jua .Sunat melafazkan niat itu dengan lidah . Wajib berniat puasa tiap-tiap hari sama ada puasa itu fardhu atau sunat ,kerana puasa didalam tiap-tiap hari itu suatu ibadat masing-masing berkehendak sekelian kepada niat .Maka jika berniat seseorang pada malam pertama daripada bulan ramadhan bahawa ia puasa sebulan ramadhan ,tiadalah memadai akan niat yang demikian itu melainkan memadai bagi puasa yang pertama jua tetapi sebaiknya hendaklah ia berniat demikan itu pada malam yang pertama daripada bulan ramadhan supaya hasil pahala puasa ramadhan jika lupa ia akan niat pada setengah daripada segala malamnya yang kemudian daripada itu ,pada mazhab orang yang memadai akan niat yang demikian itu .Wajib pada puasa fardhu ,berniat pada malam iaitu barang yang antara masuk matahari dan terbit fajar .Niatnya = نويت صوم غد عن رمضان

2) Menahan diri daripada segala yang membatalkan puasa .Setengahnya iaitu jima’ iaitu dengan memasukkan sekalian hasyafah zakar atau kadar hasyafah pada zakar yang terpotong kedalam faraj jikalau dubur manusia atau lainnya sekalipun ,maka batallah puasanya jikalau tiada inzal (keluar air mani) sekalipun dengan syarat jika tahu ia akan haramnya dan disengajanya lagi dengan ikhtiyarnya (pilihannya) .Adapun jika ada ia jahil akan haramnya atau ia jima’ dengan lupanya atau digagahi orang akan dia ,tiadalah batal puasanya .
Setengah perkara lagi,mengeluarkan mani dengan lain daripada jima’ seperti keluarkannya dengan tangannya atau dengan tangan isterinya atau gundiknya ,maka batallah puasanya .
Setengah perkara lagi , batal puasa dengan inzal sebab bersentuh atau bercium atau berpeluk dengan perempuan dengan tiada berlapik .Tiada batal puasa dengan sebab keluar mazi .Demikian lagi tiada batal puasa dengan inzal ,sebab bersentuh dengan lelaki muda belia tetapi sebaiknya diqada’nya puasanya supaya keluar ia daripada khilaf .
(Masaalah)= Jika menggaru-garu seorang akan zakarnya kerana sangat gatal atau barang sebagainya ,maka lalu ia inzal ,maka tiadalah batal puasanya . Demikan lagi tiada batal puasanya dengan inzal sebab tergaru zakarnya dengan pelana kudanya tatkala mengenderainya .
(Masaalah)= Jika gatal zakar seseorang dan diketahuinya apabila digaruinya akan zakar itu ,nescaya inzal ia ,maka digarunya juga lalu inzal ,maka ditilik = jika tiada dapat ia menahani akan dirinya daripada menggaruinya ,tiadalah batal puasanya .Jika dapat menahaninya,maka batallah puasanya .
Demikian lagi tiada batal puasa dengan sebab bermimpi hinga keluar air mani . Demikan lagi tiada batal puasa dengan inzal ,sebab menyentuh faraj binatang atau dengan fikir atau dengan menilik atau menyentuh perempuan dengan berlapik walau lapikkan itu nipis sekalipun dan jika berulang-ulang yang tiga itu dengan syahwat sekalipun kerana ketiadaan mubasyarah (bersentuh kulit) seperti bermimpi tetapi haram mengulang-ulangi akan dia dan jika tiada inzal sekalipun ,demikianlah kata asnawi .Kata Zarkashi ,tiada haram mengulang-ulanginya melainkan jika inzal ia .
Demikian lagi haram atas yang mencium perempuan atau menyentuh dia pada mulutnya atau lainnya jika tiada kuasa ia menahani dirinya daripada jima’ atau inzal kerana yang demikian itu membawa kepada membinasakan ibadat .Jika kuasa ia menahani dirinya daripada demikian itu ,maka tiadalah haram atasnya mencium atau menyentuh dia tetapi telebih baik meninggalkan perbuatan itu .
Demikian lagi ,tiada batal puasanya dengan inzal ,sebab menyentuh barang yang tiada membatalkan wudhu’ seperti menyentuh anggota perempuan yang bercerai .
Demikian lagi ,jika diciumnya atau dipeluknya akan perempuan dan dijauhkan dirinya daripadanya sebelum daripada fajar ,kemudian inzal ia mengiringi fajar ,tiadalah batal puasanya . Jika diciumnya akan perempuan pada siang hari tatkala ia puasa ,kemudian maka bercerai ia daripadanya dalam beberapa waktu ,kemudian lalu inzal , maka ditilik = jika ada syahwatnya itu berkekalan dan zakarnya itu lagi bangkit hingga inzal ,maka batallah puasanya .Jika tiada demikian itu ,maka tiadalah batal puasanya .


Setengah daripada yang membatalkan puasanya iaitu menyahaja muntah jika tahu ia akan haramnya lagi dengan ikhtiyarnya dan jika yakin ia akan tiada kembali suatu daripada muntah ke dalam perutnya sekalipun ,maka batal puasanya dengan dia .Kata Syeikh Ibnu Hajar didalam Tuhfah ,jumlah daripada menyahaja muntah iaitu menarik benang dari dalam perutnya yang diperlankannya di waktu malam (ya’ni sebahagiannya berada dalam perut dan sebahagiannya berada diluar mulut) ,maka batal puasanya . Bersalahan yang mengeluarkan pada siang hari akan kapas yang dimasukkannya pada malam ke dalam batin zakarnya atau farajnya ,maka tiadalah batal puasanya .Jika dibiarkan benang itu yang pada had zahir ,tiadalah sah sembahyangnya dengan dia kerana berhubung dengan najis .Maka jalan yang menghasilkan sah sembahyang dan puasanya ,hendaklah ditarik akan dia oleh orang lain pada ketika lalainya dari kerana jika ditarik orang akan dia pada ketika tiada lalainya dan dapat ia menolakkan orang yang menarik itu ,maka tiada ia ditolakkan akan dia ,maka batallah puasanya . Jika tiada orang yang menarik seperti demikian itu ,maka wajib atasnya memeliharakan sembahyangnya kerana hukum sembahyang itu terlebih besar daripada hukum puasa .Maka dari kerana inilah dibunuh akan orang yang meninggalkan sembahyang dan iada dibunuh orang yang meninggalkan puasa . Demikian lagi ,sembahyang itu iada harus meninggalkan dia sebab uzur dan harus meninggalkan puasa dengan sebab uzur .Maka apabila wajib atasnya memeliharakan sembahyangnya , maka wajib atasnya menarik benang itu atau memerlankannya .kemudian diqada’kan puasanya .Sebaiknya diperlankannya supaya tiada kena najis mulutnya tetapi tempat yang tersebut itu sekaliannya ,apabila tiada dapat baginya memotong benang yang pada had zahir daripada mulut . Adapun jika dapat yang demikian itu , maka wajib atasnya memotong yang pada had zahir mulut dan memerlan pada had batin .
Demikian lagi ,tiada batal puasanya atas qaul yang mu’tamad jika dikeluarkannya dahak daripada otaknya atau perutnya lalu diludahkannya .Demikian lagi tiada batal puasanya dengan tiada khilaf ,jika keluar dahak daripada otak atau perut dengan sendirinya atau keluar ia dengan sebab batuk atau lainnya ,lalu diludahkannya akan dia .Jika diperlankannya akan dia serta kuasa ia meludahkannya kemudian daripada sampai ia kepada had zahir mulut iaitu makhraj Ha ,maka batallah puasanya .


Setengah dariapda yang membatalkan puasanya iaitu memasukkan suatu ain kedalam yang dinamai rongga dengan syarat jika sampai ia kepada rongga itu daripada lubang yang terbuka dan jka ada ain itu kecil seperti biji sahwi atau tiada dimakan akan ia pada adat seperti batu sekalipun ,maka batallah puasanya .jika tahu ia akan haramnya lagi dengan disengajanya dan dengan ikhtiyarnya ,sama ada pada rongga itu kekuatan yang menghancurkan makanan dan ubat seperti batin perut dan pekemehnya dan batin otak atau tiada baginya kekuatan yang menghancurkan makanan dan ubat seperti batin telinga dan batin lubang zakar atau faraj dan lubang hujung susu badan ,maka batallah puasanya dengan memasukkan sesuatu kedalam yang tersebut .
Demikian lagi , batal puasa jika dititikkan air atau minyak atau barang sebagainya pada batin lubang telinga dan lubang susu badan dan lubang zakar .
Demikian lagi , batal puasanya jika dimasukkannya hujng jari pada dubur atau faraj hingga terlampau daripada had yang wajib membasuh dia tatkala istinja’ . Maka keluar dengan kata yang dinamai rongga iaitu barang yang tiada dinamai rongga seperti didalam sungsum atau didalam daging yang dimana jika mengubati seseorang akan lukanya yang pada betisnya atau pada pehanya ,maka sampai itu kedalam sungsum betisnya atau kedalam pehanya ,maka tiadalah batal puasanya .
Demikian lagi , tiada batal puasanya jika dicucukkannya dengan jarum besi umpamanya kedalam daging pehanya kerana tiada di sana rongga .Jikalau menikam seseorang akan dirinya dengan pisau umpamanya atau menikam akan dia oleh orang lain dengan izinnya ,maka sampai pisau itu kepada rongganya ,maka batal puasanya . Keluar dengan kata rongga yang terbuka iaitu barang yang sampai kepada rongga daripada lubang yang tiada terbuka , maka tiada batallah puasanya dengan berminyak jika meresap minyak pada segala lubang pohon roma dan rambut dan dirasanya akan minyak itu sampai kepada rongganya sekalipun kerana tiada dimasukkannya kepada rongganya daripada lubang yang terbuka .
Demikian lagi , tiada batal puasanya dengan bercelak dan jika didapatnya warna celak pada ludahnya dan dirasanya rasa celak pada kerongkongnya sekalipun kerana tiada lubang yang terbuka daripada matanya hingga kerongkongnya ,maka iaitu seperti minyak yang meresap pada segala lubang roma atau rambut jua .
Demikian lagi , tiada batal puasanya dengan sebab mandi dan jika meresap air kepada batinnya daripada segala lubang pohon roma dan rambut sekalipun kerana tiada sampai ia kepada rongganya daripada lubang yang terbuka .Jika termasuk air ke dalam rongganya daripada lubang yang terbuka seperti telinganya tatkala mandi kerana menyejukkan badan ,begitu juga jika termasuk air pada yang keempat kali daripada masuk air ke hidung atau berkumur-kumur ketika ambil wudhu’ ,maka batallah puasanya .Jika menyelam didalam air serta dibukakan mulutnya ,maka termasuk air ke dalam perutnya ,maka batallah puasanya kerana tiada sukar memeliharakan daripadanya dan kerana makruh menyelam bagi orang yang puasa seperti melebih-lebih pada masuk air ke hidung atau berkumur-kumur ketika ambil wudhu’ jua tetapi jika diketahuinya daripada adatnya ,apabila menyelam ia ,nescaya termasuklah air kepada rongganya ,haramlah atasnya menyelam .Adapun jika termasuk air ke dalam rongga yang mandi wajib seperti mandi haid atau nifas atau janabah atau mandi sunat ,maka tiada batal puasa dengan dia .Itupun jika tiada menyelam ia tatkala mandi .Jika menyelam ia dan termasuk air ke dalam rongganya ,tatkala itu batallah puasanya . Jikalau dimasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dengan disengajanya kerana ada tujuan ,kemudian diperlankannya dengan lupanya , tiadalah batal puasanya .Tiada makruh bagi yang puasa mandi dan berminyak dan bercelak ,hanya yang demikian itu khilaful aula ertinya menyalahi yang utama .Maka yang utamanya bagi yang puasa ,bahawa jangan ia mandi dan berminyak dan bercelak kerana pada Mazhab Malik menyatakan batal puasa dengan bercelak . Tiada batal puasanya dengan berbuang darah dengan berpetik dan berbekam tetapi terutama janganlah ia berbuang darah kerana yang demikian itu melemahkan badan dan jikalau keluar dubur yang berpenyakit buasir itu ,maka tiadalah batal puasanya dengan memasukkan atau termasuk ia dengan sendirirnya kerana sangat hajat kepada memasukkan dia dan wajib membasuh duburnya daripada cemar dan lendir yang ada ia pada dubur itu jika tiada memberi mudhorat akan dia .
Demikian lagi ,tiada batal puasanya jika termasuk lalat atau nyamuk kepada batin mulutnya .Maka jangan dikeluarkannya akan dia kerana boleh membawa kepada batal puasanya kerana yang demikian itu jumlah daripada menyahaja muntah tetapi jika takut mudhorat seperti mengharuskan tayamum ,maka haruslah baginya mengeluarkan dia dan wajib atasnya mengqada’ puasa itu .
Demikian lagi , tiada batal puasanya jika termasuk debu jalan yang suci atau debu tepung tatkala diayakkannya sama ada ia sedikit atau banyak kerana sukar memeliharakan daripadanya tetapi jika disengahajanya membukakan mulutnya hingga masuk debu itu ke dalam mulutnya ,maka batallah puasanya jika ada debu itu banyak . Jika debu yang masuk itu sedikit pada uruf ,maka tiada batal puasanya .
Demikian lagi , tiada batal puasanya sebab merasai makanan dengan lidah dan jika sampai rasa makanan itu kepada kerongkongnya sekalipun kerana rasa makanan itu bekas jua bukan ain .
Demikian lagi , tiada batal puasanya sebab mencium bunga atau asap setanggi atau barang sebagainya dan jika sampai bau dan asap itu ke dalam otaknya atau ke dalam perutnya sekalipun kerana bau asap itu bekas jua bukan ain .Kata Syabra Malisi , diambil daripada yang demikian itu bahawasanya tiada batal puasanya dengan sebab menghisap asap tembakau kerana asap tembakau itu bekas jua bukan ain pada uruf seperti asap setanggi . Adalah Syeikh Ziyadi berfatwa ia akan yang demikian itu pada mula-mulanya ,kemudian maka dibawa oleh setengah daripasa segala muridnya Syeikh akan buluh penyedutan tembakau .Maka dipecahnya akan buluh itu di hadapan Syeikh itu dan diperlihatkannya akan dia ain yang beku didalam buluh daripada bekas asap tembakau serta katanya bagi syeikh inilah ain bukan bekas .Maka ruju’lah Syeikh itu daripada fatwanya yang dahulu lalu berkata ia = “ Manakala adalah asap tembakau itu ain , batallah puasanya dengan menghisap ia .” Dibezakan antara asap tembakau dan asap setanggi bahawasanya asap tembakau itu diqasad (dituju atau diniat) dirinya tembakau ,tiada pada baunya dan asap setanggi itu diqasad pada baunya bukan pada dirinya .Demikian lagi ,asap tembakau itu disampaikan ke dalam rongga dengan perbuatan atas kelakuan suatu yang diminum ,maka sampainya ke dalam rongga terbanyak daripada barang yang sampai ia daripada asap setanggi dan adalah asap tembakau yang berhimpun dengan kelakuan yang tersebut itu dibilangkan ain pada uruf.


(Masaalah) Jika seseorang makan sahur atau berbuka puasa dengan ijtihadnya akan keadaan malam ,kemudian maka nyata salahnya seperti bahawa jatuh makannya itu pada siang hari ,maka nyatalah batal puasanya pada dua masaalah itu kerana tiada kebilangan bagi sangka (ظن) yang nyata salahnya .Tetapi jika tiada nyata suatu daripada halnya ,maka sahlah puasanya pada kedua masaalah itu .Inilah hukumnya jika ada ia makan sahur atau berbuka dengan ijtihadnya .Adapun jika ada ia makan sahur atau berbuka puasa dengan tiada ijtihadnya dan tiada nyata halnya siang pada dua masaalah itu ,sahlah puasanya pada masaalah makan sahur kerana yang asal padanya malam jua dan tiada sah puasanya pada masaalah makan berbuka kerana yang asal padanya siang jua tetapi jika nyata salahnya ijtihad pada kedua masaalah itu ,wajiblah atas keduanya qada’ dan jika nyata betulnya ijtihad pada kedua masaalah itu ,maka tiada wajib qada’ . Jika ditanya orang =Telah dahulu perkataan pada syarat sembahyang ,barang siapa sembahyang dengan tiada ijtihad pada menentukan kiblat ,tiada sah sembahyangnya dan jika nyata betulnya sekalipun .Maka apa jua perbezaan antara keduanya (sembahyang dan puasa) . Maka dijawab = Bahawasanya ijtihad pada menentukan kiblat iaitu syak pada wujud syarat sah sembahyang dan yang asal ketiadaan wujud syarat ,maka tiadalah sah sembahyangnya .Pada masaalah puasa ,syak ia pada wujud yang membinasakan puasa dan yang asalnya ketiadaan wujud yang membinasakan puasa,maka sahlah puasanya .
(Masaalah) Jikalau terbit fajar sadiq tatkala ia makan ,maka hendaklah dibuangkannya barang yang ada didalam mulutnya daripada makanan sebelum daripada masuk suatu daripada makanan itu ke dalam rongganya atau kemudian daripada termasuk makan itu dengan tiada ikhtiyarnya kerana jika dikulumnya akan makanan itu lalu termasuk suatu daripada makanannya ke dalam rongganya ,batallah puasanya kerana kecuaiannya sebab mengulum makanan itu .Adalah bandingannya yang demikian itu seperti mengulum ia akan makanan itu pada siang hari dengan disengajanya lalu termasuk sesuatu daripada makanan itu ke dalam rongganya ,batallah puasanya kerana lalainya dengan mengulum makanan itu .Bersalahan jika diperlannya akan makanan yang dikulumnya itu dengan lupanya ,maka tiadalah batal puasanya dengan dia kerana lupanya itu menghilangkan akan lalainya .
(Masaalah) Jikalau terbit fajar sadiq tatkala ia jima’ ,wajib atasnya mengeluarkan zakarnya dengan segera ,maka tiadalah batal puasanya dengan mengeluarkan dia walau inzal sekalipun .kerana bahawasanaya mengeluarkan zakarnya itu meninggalkan jima’ jika diqasadnya dengan mengeluarkan zakarnya itu meninggalkan jima’ . Jika tiada diqasadnya dengan dia meninggalkan jima’ ,nescaya tiada sah puasanya . Demikianlah tersebut didalam tuhfah . Demikian lagi , tiada sah puasanya jika dikekalkannya akan jima’ seperti tiada dikeluarkannya akan zakarnya dengan segera pada ketika terbit fajar . Wajib atasnya kaffarah dari kerana tatkala adalah mengekali jima’ itu menegahkan sah puasa ,adalah ia seolah-olah membatalkan puasanya dengan jima’ .Inilah perintahnya pada yang tahu akan terbit fajar pada ketika permulaan terbitnya .Adapun jika lalu masa kemudian daripada terbit fajar ,kemudian baru tahu ia akan terbit fajar,maka dikekalinya juga akan jima’nya ketika itu ,tiadalah wajib kaffarah atasnya dari kerana puasanya batal dengan jima’ yang dahulu pada ketika jahil ia akan terbit fajar ,tiada batal puasa dengan jima’ yang dikekalinya kemudian daripada tahu ia akan terbit fajar .


3) Orang yang puasa .
Bermula syarat sah orang yang puasa itu tiga perkara =


1) Hendaklah ada ia Islam daripada permulaan hari puasanya hingga akhirnya puasa . Maka tiadalah puasa bagi orang kafir dengan barang jenis kafir .Walau begitu mereka akan diseksa di akhirat kelak dengan dua sebab .Pertama kerana kafirnya .Yang kedua kerana tak puasanya kerana ia akan dituntut dan diseksa dalam negeri akhirat . Adapun di dunia tiada disuruh dan dituntut akan dia sebagaimana bab sembahyang ,zakat dan lain-lain .*Peringatan = Haram jual makanan atau beri makanan kepada orang kafir ketika masa berpuasa .Begitu juga kepada orang muslim yang tak berpuasa dengan tiada uzur .Batal puasa orang yang murtad didalam hari puasanya dengan ijma’ .

2) Hendaklah ia berakal daripada fajar hingga datang kepada masuk matahari ..Maka tiadalah sah puasanya yang gila daripada fajar hingga maghrib dan jika mendatang gilanya didalam hari puasanya jikalau sekejap sekalipun ,batallah puasanya . Tiada batal puasanya sebab pitam atau mabuk yang tiada disengajanya jika ia sembuh sekejap sekalipun didalam siang hari . Jika pitam atau mabuk daripada fajar hingga maghrib ,tiadalah sah puasanya kerana pitam dan mabuk itu mengeluarkan ia akan seseorang daripada keadaan ahli taklif .Bersalahan dengan tidur , maka tiada batal puasa yang tidur daripada fajar hingga maghrib kerana kekal keadaannya ahli bagi taklif lagi pula yang tidur itu jika dijagakan ,nescaya jaga ia .Bersalahan dengan yang pitam dan yang mabuk . Demikian lagi ,wajib mengqada’ sembahyang yang luput sebab tidur dan tiada wajib qada’ sembahyang yang luput dengan sebab pitam atau mabuk pada jumlah (umum/kebanyakkan) .

3) Hendaklah ia sunyi daripada haid dan nifas daripada fajar hingga maghrib . Maka tiadalah sah puasa yang haid dan nifas lagi haram .Jika mendatang haid atau nifas didalam hari puasanya ,nescaya batal puasanya .Bermula syarat sah puasa pada pihak masa ,hendaklah jatuh puasa itu didalam hari yang menerima hari itu bagi puasa iaitu hari yang lain daripada dua hari raya ,tiga hari tashrik ,dan hari syak . Maka haram lagi tiada sah puasa pada hari raya kedua-duanya dan jika puasa fardhu sekalipun kerana ditegahkan Nabi akan puasa pada hari raya kedua-duanya didalam hadith riwayat Bukhari dan Muslim .Demikian lagi haram lagi tiada sah puasa pada tiga hari tashrik kemudian daripada hari raya korban , jikalau ada puasa itu puasa tamatu’ ganti daripada dam sekalipun kerana ditegahkan puasa pada hari itu didalam hadith riwayat Abu Daud .Demikian lagi , haram lagi tiada sah puasa pada hari syak dengan tiada sebab kerana kata Amar anak Yasir مَنْ صَامَ يَوْمَ شَكِّ فَقَدْ عَصَى أباالقاسِمِ صلى الله عليه وسلم ya’ni barang siapa puasa pada hari syak , maka bahawasanya derhakalah ia akan nabi صلى الله عليه وسلم ,yang meriwayatkan akan dia oleh tirmizi dan lainnya dan kata mereka iaitu sahih . Adapun jika ada puasa itu dengan sebab seperti qada’ dan nazar dan wirid ,maka sahlah puasanya lagi tiada haram melainkan jika disengajanya menjatuhkan puasa didalam waktu syak itu ,maka iaitu haram lagi tiada sah seperti sembahyang didalam waktu karahah kerana sabda nabi صلى الله عليه وسلم ( لاتُقَدِّمُوا رمضانَ بصومِ يومٍ أو يَومَيْنِ اِلاَّ رجلٌ كان يصومُ صومًا فَلْيَصُمْهُ) ya’ni jangan kamu mendahulukan ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari melainkan laki-laki yang ada ia puasa wirid ,maka hendaklah dipuasakannya , riwayat Bukhari dan Muslim ya’ni seperti adalah ia beradat puasa sepanjang-panjang tahun atau puasa sehari dan berbuka sehari dan diqiyaskan dengan puasa wirid itu dengan yang lainnya seperti qada’ ,nazar atau kaffarah . Bermula hari syak itu iaitu diharamkan puasa didalamnya dengan dua sebab .Pertama keadaannya hari syak .Kedua , keadaannya hari didalam nisfu yang kedua daripada bulan syaaban . Maka hari syak itu iaitu hari ketiga puluh daripada bulan syaaban ,apabila berkhabar-khabar manusia dengan melihat bulan ramadhan dan tiada naik saksi seorang jua pun pada melihatnya (Cuma cakap di kedai kopi misalan) atau naik saksi segala mereka yang tiada diterima saksinya mereka seperti keadaan mereka itu kanak-kanak atau sahaya atau fasik atau perempuan . Adapun jika tiada berkhabar-khabar manusia pada melihat anak bulan dan tiada naik saksi seorang jua pun ,maka tiadalah hari itu hari syak ,hanya adalah ia daripada bulan syaaban ,maka tiadalah haram puasa didalamnya daripada pihak hari syak tetapi haram puasa pada pihak keadaannya daripada nisfu yang kedua daripada bulan syaaban .

Demikian lagi , haram puasa pada nisfu yang kedua daripada bulan syaaban iaitu daripada hari yang keenam belas hingga akhir bulan syaaban kerana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم (اذا انْتَصَفَ شَعْبانُ فلا تَصُومُوا ) ya’ni apabila bertengahlah bulan syaaban ,maka janganlah kamu puasa melainkan puasa wirid seperti beradat ia puasa sentiasa atau berselang-selang hari atau puasa isnin dan khamis atau puasa qada’ atau nazar atau kaffarah atau dihubungkannya puasa pada nisfu yang kedua dengan nisfu yang pertama seperti dipuasakannya pada hari yang kelima belas dan hari yang keenam belas ,maka haruslah ia puasa pada nisfu yang kedua daripada bulan syaaban kerana sekalian yang tersebut itu . Jikalau puasa ia pada hari yang kelima belas dan yang keenam belas ,kemudian berbuka ia pada hari yang ketujuh belas ,nescaya haramlah atasnya puasa pada hari yang kelapan belas dengan tiada suatu sebab yang telah tersebut itu kerana hilang berhubung yang mengharuskan bagi puasa pada hari itu . Wallahualam .

Saturday, August 13, 2011

Ringkasan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW

1. Kelahiran dan Empat Puluh Tahun Sebelum Kenabian

 Nabi Muhammad SAW lahir di kota Mekkah pada hari Isnin, tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah (dinamakan tahun Gajah karena pada saat itu pasukan bergajah yang dipimpin oleh Gabenor Yaman Abrahah ingin menghancurkan Kaa’bah . Kemudian pasukan itu binasa seperti daun yang dimakan ulat. Q.S Al-Fiil), bertepatan dengan 570 M. Sebahagian besar penduduk Mekkah menyemba berhala). Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, dan ibu beliau bernama Aminah binti Wahab. Abdullah bin Abdul Muthalib wafat ketika Rasulullah masih berada dalam kandungan. (Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, masyarakat hidup pada zaman Jahiliyah yaitu zaman kebodohan.  Sebahagian besar penduduk Mekkah menyembah berhala)

Orang pertama yang menyusui beliau setelah ibunya adalah Tsuaibah .Kemudian beliau disusukan kepada Halimah binti Dzu’aib As-Sa’diyah hingga berumur 2 tahun, dan beliau diasuh Halimah selama 4 tahun.


Pada usia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW, dibawa oleh ibunya berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib. Namun ketika sampai di Abwa’, ibunya meninggal dan dimakamkan di Abwa’. Dalam perjalanan tersebut , ikut juga pengasuh beliau yang bernama Ummu Aiman.  Kemudian Rasulullah diasuh datuknya, selama dua tahun.


Saat beliau berumur 8 tahun, datuknya meninggal dunia dan beliau di asuh oleh bapa saudaranya Abu Thalib. Pada usia 12 tahun, Rasulullah di bawa berniaga oleh Abu Thalib bersama kafilah dagang ke negeri Syam. Ketika  tiba di Bashrah, beliau bertemu dengan pendeta Nasrani yang bernama Bahira (Bukhira) yang mengatakan kepada Abu Thalib bahwa anak saudaranya memiliki tanda-tanda kenabian dan menyarankan agar Rasulullah dibawa kembali pulang agar tidak dicelakai orang Romawi dan Yahudi.

Pada tahun ke-14 dari kelahirannya, Rasulullah ikut dalam perang Fijar yang terjadi pada suatu tempat di antara Nakhlah dan Thaif, antara kabilah Quraisy dan sekutunya Bani Kinanah melawan Kabilah Qais ‘Ailan. Dalam hal ini Rasulullah ikut membantu paman-pamannya menyediakan anak panah.

Pada Usia 25 tahun Rasulullah dipercaya membawa barang perniagaan milik Khadijah binti Khuwailid untuk diperdagangkan ke negeri Syam.  Kemudian Rasulullah menikah dengan Khadijah.  Putra –putri beliau dari perkahwinan dengan Khadijah adalah : Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Semua putra beliau meninggal ketika masih kanak-kanak, sedangkan putri beliau semua hidup pada masa Islam, namum meninggal semasa beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang meninggal dunia enam bulan setelah beliau wafat.


Ketika Rasulullah berusia 35 tahun, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah yang rusak akibat banjir. Tatkala pengerjaan sampai kepada peletakan Hajar Aswad, terjadi perselisihan tentang siapa yang paling berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat semula.Untunglah ada seorang yang bijaksana yaitu Ummayah bin Mughirah dari bani Makzum. Atas usul Ummayah, mereka sepakat siapa yang paling pertama masuk melalui pintu Shafa, ialah yang menjadi pemutus perkara tersebut.  Atas Kehendak Allah SWT, Rasulullah yang pertama memasuki pintu tersebut, dengan gembira mereka menyeru Al Amin (orang yang dapat dipercaya). Rasulullah membentangkan sehelai kain dan meletakkan Hajar Aswad ditengahnya, lalu meminta agar semua kepala kabilah memegang ujung selendang dan mengangkatnya sampai ke tempat.


2. Dibawah Naungan Kenabian

 Ketika usia Rasulullah mendekati 40 tahun beliau sering beruzlah (mengasingkan diri untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT) di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Tatkala usia beliau genap 40 tahun , beliau diangkat menjadi rasul dengan turunnya wahyu pertama surat Al-Alaq ayat 1-5 yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Rasulullah gementar dan pulang menemui isterinya Khadijah dan berkata “Selimuti aku, selimuti aku”.  Kemudian Khadijah membawa Rasulullah kepada bapa saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal dan Waraqah menyatakan yang datang kepada Rasulullah adalah malaikat Jibril.

 a. Dakwah secara sembunyi-sembunyi (da’wah sirriyyah)
Dakwah secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3 tahun. Pada dakwah permulaan itu empat orang yang dekat dengan Rasulullah menyatakan keislamannya, mereka disebut sebagai as-saabiquun al- awwalluun (orang yang pertama masuk Islam). Mereka terdiri dari : Khadijah (isteri beliau), Abu Bakar Shiddiq (sahabat beliau), Ali bin Abi Thalib (sepupu beliau), dan Zaid bin Haritsah ( hamba beliau).


b. Dakwah secara terang-terangan (da’wah jahriyyah)
Dakwah secara terbuka dilakukan Rasulullah setelah mendapat perintah Allah SWT (Q.S Al Hijr ayat 94). Dakwah pertama secara terang-terangan dilakukan di bukit Shafa dekat Ka’bah dan mendapat cemuhan dari sebahagian besar kaum Quraisy terutama bapa saudaranya sendiri Abu Lahab (Q.S Al-Lahab).


c. Reaksi kaum Quraisy atas dakwah Rasulullah
Bermacam-macam penindasan dilakukan kepada kaum muslimin ,antara lain :

- Ustman bin Affan digulung oleh bapa saudaranya dalam tikar kurma dan diasapi dari bawah.

- Bilal, budak milik Umayyah bin Khalaf al-Jumahiy, lehernya dililit tali dan diseret, ditindih dengan batu besar dan diletakkan di bawah panas terik matahari lalu dibebaskan oleh Abu Bakar.

 Pada Tahun kelima kenabian, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin hijrah ke Habsyah (Ethiopia) untuk menghindari penyiksaan kaum musyrikin. Raja Habsyah pada waktu itu adalah Ashhimah an-Najasyiy.
Kekejaman kafir Quraisy semakin menjadi-jadi. Pada tahun ke tujuh kenabian, kaum muslimin dan seluruh Bani Hasyim serta bani Muthalib di asingkan di lembah Syi’ib. Kaum kafir Quraisy memboikot segala hubungan antara umat Islam dengan pihak lain, sehingga kaum muslimin menderita kelaparan. Pada tahun itu juga Rasulullah memerintahkan untuk hijrah ke Habsyah yang kedua kalinya.

d. Masuk Islamnya Hamzah dan Umar bin Khattab

Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada penghujung tahun keenam kenabian, pada bulan Zulhijjah. Sebab keislamannya, diasbabkan penyiksaan  Abu Jahal kepada Rasulullah di bukit Shafa dan disampaikan kepada Hamzah oleh budak perempuan Abdullah bin Jad’an. Keislaman Hamzah pada mulanya sebagai penebusan harga diri seseorang yang tidak sudi keluarganya di hina, namun Allah membuatkannya cinta terhadap Islam dan menjadikan kebanggaan kaum muslimin.Tiga hari setelah Hamzah masuk Islam, Umar bin Khatab pun menyatakan keislamannya.


Tahun kesepuluh kenabian isteri Rasulullah Khadijah dan bapa saudaranya yang selalu melindungi Rasulullah dari kaum musyrikin yaitu Abu Thalib wafat. Tahun ini disebut tahun Amul Huzni (tahun kesedihan).


Dakwah di Luar Kota Mekkah

Pada tahun Ke-10 kenabian Rasulullah hijrah ke Thaif didampingi  anak angkat beliau Zaid bin Haritsah.Namun dakwah beliau tidak mendapat sambutan yang baik, bahkan beliau di usir dan dilempari oleh penduduk Thaif.  Rasulullah tinggal 10 hari di Thaif dan kembali ke Mekkah.


Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Tahun ke-11 kenabian   terjadi peristiwa Isra’ Mikraj (Q.S Al-Israa ayat 1). Isra’ artinya perjalanan Rasulullah pada malam hari, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis, Palestina. Mikraj artinya di naikkan ke langit tertinggi iaitu dari Baitul Maqdis sampai ke Sidratul Muntaha. Perjalanan beliau ditemani oleh malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq. Pada peristiwa ini Rasulullah menerima perintah salat yang pada  mulanya 50 rakaat sampai akhirnya 5 rakaat sehari semalam



Dari perjalanan Isra’ Mikraj ini Rasulullah mengalami kejadian yang berbagai-bagai :

- Beliau ditawari susu dan arak, lalu beliau memilih susu.

- Beliau melihat 4 buah sungai di surga, dua sungai nampak dan dua lagi tersembunyi. Yang tampak adalah sungai Nil dan sungai Eufrat.

 - Beliau melihat malaikat Malik penjaga neraka yang tidak pernah tertawa.

 - Beliau melihat para pemakan harta anak yatim secara zalim yang bibir mereka seperti bibir unta, mulut mereka dilempari sepotong api dari neraka

- Beliau melihat pemakan riba yang perutnya buncit.

-Beliau melihat penzina diantara mereka terlihat daging gemuk di tangannya dan disampingnya daging bernanah dan busuk dan mereka memilih memakan daging busuk dan bernanah.

- Beliau melihat rombongan niaga penduduk Mekkah sepulangnya dan ketika pergi. Beliau menunjukkan kepada mereka perihal unta mereka yang melarikan diri dan meminum air milik mereka. Air minum itu berada di bawah wadah yang tertutup saat mereka tertidur. Hal ini yang menjadi bukti kebenaran pengakuan beliau pada pagi hari dari malam Isra’.  Sahabat beliau Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra’ Mikraj manakala orang-orang mendustakannya. Pada saat ini Abu Bakar dinamakan Ash-Shiddiq (orang yang selalu membenarkan nabi).


Bai’at Aqabah Pertama

Pada tahun 12 kenabian datang 12 orang dari Yastrib yaitu suku Khazraj dan suku Aus menemui Rasulullah di bukit Aqabah di Mina  dan berbai’at (berjanji) akan setia kepada Allah SWT. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bai’atul Aqabah Pertama. Kemudian mereka pulang ke Yastrib dan Rasulullah SAW mengutus Mush’ab bin Umair untuk mengajarkan dan memberikan pemahaman tentang agama Islam.


Bai’at Aqabah Kedua (Bai’at Kubro)

Pada musim haji tahun ke-13 kenabian datang lagi penduduk Yatsrib dengan jumlah yang lebih besar menemui Rasulullah di Aqabah, sehingga peristiwa ini dikenal dengan Bai’atul Aqabah Kedua. Dalam pertemuan dengan Rasulullah SAW mereka meminta dengan sungguh-sungguh agar Rasulullah dan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan menolong dan melindungi seperti keluarga sendiri.


Hijrah ke Yatsrib
Rasulullah menyambut baik permintaan kaum Yatsrib untuk hijrah. Beliau memerintahkan agar semua kaum muslimin hijrah ke Yatsrib. Mereka hijrah secara sembunyi-sembunyi. Setelah hampir seluruh kaum muslimin berangkat maka Rasulullah pun Hijrah ditemani Abu Bakar Shiddiq.


Pengepungan terhadap Kediaman Rasulullah SAW.
Para kafir Quraisy yang telah ditunjuk berdasarkan kesepakatan parlemen Mekkah “Daarun Nadwah”, berencana ingin membunuh Rasulullah SAW. Mereka menunggu Rasulullah keluar tengah malam untuk melakukan shalat di Masjidil Haram. Namun blokade ini gagal. Pada malam itu Rasulullah memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya dan berselimut dengan burdah hijau milik Rasulullah.

Sementara itu Rasulullah berhasil keluar dan menembus kepungan Kafir Quraisy. Beliau memungut segenggam tanah lalu menaburkannya di atas kepala mereka. Ketika itu Allah telah mencabut pandangan mereka sehingga tidak melihat Rasulullah SAW lalu. Sedangkan beliu membaca firman Allah (Surat Yaasiin.9).



Dalam perjalanan Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selam tiga malam.    

Dalam perjalanan Rasulullah sempat mendirikan sebuah masjid di Quba yang dinamakan masjid Quba. Inilah masjid yang pertama didirikan sejak kenabian. Saat memasuki Yatsrib beliau dan rombongan muhajirin disambut gembira oleh penduduk Yatsrib.  Sejak saat itu kota Yatsrib diubah nama menjadi Al-Madinatul Munawarah yang dikenal sampai sekarang dengan sebutan Madinah. 


Tahun Pertama di Madinah (Tahun 1 Hijriyah)

Mengawali langkah pertama pada tahun itu Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Anshar dan kaum Muhajirin di rumah Anas bin Malik. Kemudian secara bergotong royong membangun Masjid Nabawi.  Tahun itu juga turun wahyu yang mengizinkan kaum muslimin berperang mempertahankan akidah dan memberla agama Allah SWT.


Tahun Ke-2 Hijrah
Peristiwa bersejarah pada tahun ini antara lain :

- perubahan kiblat dari arah Baitul Maqdis Palestina ke Ka’bah Mekkah.

- pertama kalinya diwajibkan puasa Ramadhan.

- disyariatkan agar umat Islam menyelenggarakan shalat Idul Fitri setelah puasa Ramadhan.

- ditetapka mengeluarkan zakat bagi yang mampu.

- terjadinya perang Badar Kubra.

Pada perang Badar  pasukan kaum muslimin berjumlah 313 orang. Rasulullah mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai penguasa sementara di Madinah.  Pasukan perang Badar di bahagi 2 iaitu ;

1.      Al-Muhajirin dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib

2.      Anshar dipimpin oleh Sa’d bin Mu’adz.
Tahun ke-3 Hijrah 

Peristiwa penting pada tahun ini adalah :

- Diharamkannya minuman khamar bagi kaum muslimin.

- Peristiwa perang Uhud iaitu perang antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy yang dendam atas kekalahan pada perang Badar.Pada perang ini terbunuhnya “Singa Allah”, Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika pasukan Islam mencapai kemenangan, terjadi kesalahan fatal dari pasukan pemanah (yang diperintahkan Rasulullah tetap berada di bukit dalam situasi apapaun), mereka melihat pasukan Islam sedang mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang) dan turun ikut mengumpulkan ghanimah.  Khalid bin al-Walid, pasukan musuh memanfaatkan kesempatan untuk menyerbu pasukan kaum muslimin. 


Tahun ke-4 Hijriyah

- disyariatkannya shalat khauf (shalat karena takut)

- diturunkannya wahyu tentang tayamum bila tidak ada air.


Tahun ke-5 Hijriyah

- diwajibkan haji bagi kaum muslimin yang mampu.

- terjadi perang Khandaq (perang Ahzab), yaitu perang dengan taktik menggali parit sebagai benteng muslim di Madinah.


Tahun ke-6 Hijriyah
- terjadi Perjanjian Hudaibiyah , yaitu perjanjia antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy di desa Hudaibiyah yang isinya :

* Penundaan haji bagi kaum muslimun

* Gencatan senjata selama 10 tahun antara kedua belah pihak

* Kebebasan memilih kelompok yang disukai (kelompok dalam perjanjian Muhammad atau dengan   pihak Quraisy).

* Siapa yang mendatangi Muhammad dari pihak Quraisy tanpa izin walinya, harus dikembalikan lagi, jika yang melarikan diri dari pihak Muhammad, maka tidak dikembalikan kepada beliau.

- Terjadi Bai’atur Ridwan, yaitu sumpah setia kaum muslimin akan membela agama Islam sampai titik darah penghabisan.  

  Tahun ke-7 Hijriyah
Berlaku perang Khaibar , yaitu perang antara kaum muslimin dengan kaum kafir yang pernah menyerang Madinah saat perang Khandaq.


Tahun ke-8 Hijriyah
 Berlakunya perang Mu’tah, yaitu perang antara kaum muslimin dengan bangsa Romawi yang menjajah wilayah utara Jazirah Arab. Pada perang ini 3000 pasukan muslimin melawan 200000 prajurit. Zaid bin Haritsah memegang panji peperangan (syahid) dan digantikan Ja’far bin Abu Thalib ( syahid), digantikan Abdullah bin Rawahah (syahid), digantikan salah satu “Pedang Allah”, Khalid bin Walid.


- Berlakunya Fathul Mekkah (penaklukan kota Mekkah), yaitu peristiwa jatuhnya kota Mekkah kepada kaum muslimin dan pengampunan Rasulullah SAW terhadap kaum Quraisy. Saat masuk Masjidil Haram Rasulullah menghancurkan 360 buah berhala. Waktu shalat tiba Rasulullah memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan Azan di atas Ka’bah.


Tahun ke-9 Hijriyah
- Kaum muslimin melaksanakan ibadah haji yang dipimpin oleh Abu Bakar Shiddiq.

- Permulaan turunnya surat Baraa’ah (At-Taubah) mengenai pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

- Penduduk Thaif masuk Islam.


Tahun ke-10 Hijriyah
- Rasulullah memimpin kaum muslimin mengerjakan ibadah haji yang kemudian disebut haji Wada’ (haji perpisahan). Ketika tiba di Arafah menjelang Zuhur, Rasulullah minta disiapkan unta beliau yang bernama Al-Qashwa dan menyampaikan khotbah terakhir. Setelah Khatbah turunlah surat Al-Maidah ayat 3, artinya : Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku ridho Islam sebagai agamamu.


Tahun ke-11 Hijriyah

Pada tahun ini Rasulullah wafat, di rumah isteri beliau Aisyah, waktu dhuha, Isnin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijrah dalam usia 63 tahun di Madinah.     


Isteri-isteri beliau :

  1. Khadijah binti Khuwailid.
    Beliau bernikah pada usia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

  1. Saudah binti Zam’ah
    Dinikahi Rasulullah tahun 10 kenabian.

  1. ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Siddiq.
    Dinikahi Rasulullah bulan Syawal tahun 11 kenabian. Aisyah berumur 6 tahun, dan digauli saat usia 9 tahun.

  1. Hafshah binti Umar bin Khathab
    Dinikahi pada tahunke-3 Hijriyah

  1. Zainab binti Khuzaimah
    Digelari Ummu Masakin (ibunya orang-orang miskin), kerana kemurahan dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin.Rasulullah menikahinya tahun ke 4 Hijriyah.

  1. Ummu Salamah Hindun binti Abu Ummayah
    Dinikahi Rasulullah tahun ke-4 Hijriyah

  1. Zainab binti Jahsy bin Rayyab.
    Beliau sebelumnya dinikahi oleh Zaid bin Haritshah (anak angkat rasulullah). Pernikahan ini terdapat dalam  firman Allah surat Al-Ahzab ayat 37

  1. Juwairiyah binti Al-Harits
    Dinikahi pada tahun ke-6 Hijriyah.

  1. Ummuh Habibah Ramlah binti Abu Sufyan.
    Dinikahi bulan Muharram tahun ke-7 Hijriyah

  1. Shafiyah binti Huyay bin Akhthab.
    Beliau tawanan dalam perang Khaibar. Rasulullah menikahinya tahun ke-7 Hijriyah.

  1.  Maimunah binti Al-Harits.
    Dinikahi rasulullah bulan Zulkaidah tahun ke-7 Hijriyah.

Rujukan :

  1. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Perjalanan Rasulullah yang Agung, Muhammad dari    Kelahiran hingga Detik-Detik Terakhir, Serial Buku Darul Haq, Jumadil Ula 1427H.
  2. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar.
  3. Tim Bina Karya Guru, Bina Sejarah Kebudayaan Islam, Erlangga, Kelas III, IV, dan V.